Udara malam di Alun-Alun 1 Jepara pada Jumat (9/10) itu terasa begitu hangat dan hidup. Di atas hamparan rumput hijau, ratusan warga duduk bersila dengan santai. Ada keluarga yang bercengkerama sambil menikmati jajanan dan minuman dingin dalam gelas plastik, anak-anak kecil yang rebah di pangkuan orang tuanya, hingga deretan tenda UMKM dan kerlap-kerlip wahana permainan yang membingkai suasana malam akhir pekan di jantung Kota Ukir.
Tepat pukul 19.00 WIB, sorot lampu panggung warna-warni membelah keramaian. Di bawah bentangan spanduk besar bertuliskan Dirgahayu Tentara Nasional Indonesia 5 Oktober 1945 – 5 Oktober 2026 dan Kodam IV/Diponegoro 5 Oktober 1950 – 5 Oktober 2026, sekelompok pelajar bersiap menyuguhkan sesuatu yang istimewa. Mereka adalah anggota Seni Karawitan SMAN 1 Jepara SEKARA, yang malam itu hadir dengan misi mulia, menyulap panggung perayaan HUT TNI ke-81 dan HUT Kodam IV/Diponegoro ke-76 menjadi ruang pelestarian budaya yang segar dan membumi.
Di sudut panggung, sebuah standing banner bertuliskan slogan jenaka, Berisik Tapi Asik, seolah menjadi prolog dari apa yang akan disaksikan warga Jepara malam itu. Pertunjukan dibuka bukan dengan kesan kaku atau kuno, melainkan lewat leburan apik antara instrumen karawitan klasik dan sentuhan musik modern campursari.
Jemari laki-laki berbusana hitam dengan aksen batik kuning keemasan dan blangkon tampak lincah menari di atas tuts keyboard Yamaha PSR-SX700. Tak jauh darinya, Muhammad Rizal Saputra, pelajar SMAN 1 Jepara, dengan penuh penghayatan menabuh kendhang merah berukir emas, menjaga dinamika irama sekaligus menjadi jantung pertunjukan.
Sementara itu, di barisan depan, rekan-rekannya, Tria Mijil Saputra dan Rifka Nihayatun Nur Wakhidah, duduk berdampingan di balik bilah-bilah saron berukir keemasan. Sambil sesekali melempar senyum ke arah rekan di atas panggung, pukulan tabuh di tangan mereka berpadu rancak mengikuti tempo. Di belakang mereka, satu set drum akustik yang berdampingan dengan deretan gamelan menegaskan identitas garapan SEKARA malam itu, merangkul modernitas tanpa mencabut akar tradisi.
Suasana kian menghangat ketika para sinden muda, di antaranya Reva Aura Kartini dan Zea Aula Kartini, melangkah ke depan panggung. Mengenakan kebaya merah muda dan merah marun yang dipadukan dengan kain jarik batik serta nyeker, selayaknya penampil tradisi sejati, mereka melantunkan tembang Jawa, termasuk lirik romantis tresno nyanding sliramu, dengan cengkok vokal yang matang. Sambil bernyanyi, ayunan tangan yang luwes dan sengkakan bersemangat Hak'e hak'o, sukses mengajak penonton ikut bergoyang tipis dari tempat duduk mereka.
Puncak kemeriahan malam itu hadir lewat suguhan fragmen cerita rakyat Roro Jonggrang, yang dikemas dengan balutan komedi segar. Legenda klasik tentang Bandung Bondowoso dan syarat seribu candi dalam semalam itu tidak disajikan secara melodramatis, melainkan penuh celetukan jenaka yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Di atas panggung, seorang pemeran laki-laki tampil gagah bak bangsawan Jawa mengenakan beskap hitam berkancing emas dengan hiasan rantai di dada, kain jarik cokelat, serta blangkon bernuansa emas. Dengan bertolak pinggang dan sorot mata tegas, ia beradu akting dan berdialog kocak dengan dua rekannya yang mengenakan seragam batik hitam-kuning dan blangkon.
Ekspresi wajah yang teatrikal, celotehan spontan, serta pembawaan Muhammad Brilliantsyach Yusuf Alfuady selaku MC yang sangat komunikatif berhasil meruntuhkan jarak antara penampil di atas panggung dan penonton di lapangan rumput. Gelak tawa pun pecah berkali-kali, membuktikan bahwa kisah klasik warisan leluhur masih sangat relevan dan menghibur ketika diolah oleh kreativitas tangan-tangan muda.
Sepanjang pertunjukan, mata para penonton, mulai dari orang tua hingga anak-anak, tak lepas memandang panggung. Di tengah gempuran budaya populer dan gawai pintar yang tak lepas dari genggaman, penampilan para murid SMAN 1 Jepara ini menjadi pemandangan yang menyejukkan hati.
Keterlibatan SEKARA dalam memeriahkan HUT TNI di Alun-Alun Jepara 1 bukan sekadar pengisi acara seremonial. Lebih dari itu, panggung malam itu adalah pernyataan sikap dari generasi muda SMAN 1 Jepara, bahwa nguri-uribudaya daerah bukanlah tugas masa lalu, melainkan tanggung jawab masa kini dan masa depan.
Melalui perpaduan gamelan, vokal sinden, musik campursari, dan teater rakyat yang jenaka, SEKARA membuktikan bahwa kesenian tradisi tidak pernah mati. Ia hanya membutuhkan ruang dan generasi penerus yang mau mengenal, mencintai, dan mengemasnya kembali dengan jiwa zaman mereka.
Malam semakin larut ketika alunan gamelan terakhir berhenti bergema, disambut tepuk tangan meriah masyarakat Jepara. Dari panggung Alun-Alun 1 Jepara anak-anak muda SMAN 1 Jepara pulang dengan kepala tegak, membawa kebanggaan sekaligus menghidupkan semboyan mereka, SEKARA, Mengakar pada Tradisi, Tumbuh Menuju Prestasi.